Panggilan Papa-Mama saat Pacaran, Wajar gak Sih?





Pagi tadi, di dalam angkutan umum di Kota Surabaya yang disebut lyn (baca len), saya dipaksa harus mengakui bahwa zaman memang benar sudah edan. Hal yang membuat saya mengakui bahwa zaman sudah edan bukan karena ada bapak-bapak yang memenuhi ruangan Angkot dengan asap rokoknya. Bukan juga karena ada mas-mas jahil yang diam-diam mencolek paha mulus mbak gemes yang duduk di samping saya. Bukan juga karena ada ibu yang panik karena kompor gasnya di rumah lupa dimatiin. Itu semua sih sudah biasa. Tidak bisa dikatakan edan. Penyebabnya adalah, dua orang anak SD.

Sebetulnya, tidak ada yang aneh ketika dua siswa-siswi SD tersebut menaiki Angkot. Mereka terlihat normal, seperti anak SD pada umumnya. Berseragam kemeja putih, celana pendek merah, rok merah, dasi merah dengan logo Tut Wuri Handayani, sepatu hitam, kaus kaki putih, ransel gambar dora, normal. Benar-benar normal. Siapapun tidak akan ada yang menyangka jika mereka adalah agen CIA atau alien yang menyamar jadi manusia. Tidak, tentu saya hanya bercanda.hehe..
Kedua anak SD yang terlihat biasa saja ini kemdudian duduk tepat di hadapanku, lalu mereka terlihat asyik bermain game di ponsel. Semua masih normal sampai ketika si lelaki memanggil kawannya dengan sebutan “Bun”. Sebenarnya ketika itu, saya masih menganggap normal sih, mungkin saja nama si perempuan adalah Buntal, karena memang lumayan bertubuh montok dan bundar. Keanehan masih berlanjut ketika kali ini giliran si perempuan memanggil si laki-laki dengan sebutan “Yah”. Hmm, jika dilihat dari postur tubuh si lelaki yang kurus kerempeng dan terlihat lemas, saya mengira ia bernama Payah.
    “Bukan gitu ihh, ayah..”
    “Lha piye sih..bunda?”
Mendengar percakapan mereka saya merasa menjadi Barry Allen yang ujuk-ujuk tersambar petir. Hanya sayangnya saya tidak menjelma menjadi The Flash. Bagaimana bisa, anak sekecil mereka sudah menikah? Saya kemudian tersadar karena hal tersebut mengusik harga diri, karena sampai setua ini belum pernah ada yang memanggil saya dengan panggilan “ayah”, kalau yang manggil 'om' banyak.
Baiklah, saya sebenarnya tahu, kedua anak SD tersebut belum menikah. Karena si lelaki pasti belum mapan. Mereka hanya berpacaran. Lalu menyepakati untuk menggunakan ayah-bunda sebagai panggilan sayang.

Sebenarnya fenomena panggilan sayang di kalangan remaja yang berpacaran sudah sangat biasa. Panggilan seperti abi-umi, papa-mama, papi-mami dan sebagainya sudah sangat lumrah. Tetapi, sepanjang pengetahuan saya, hal tersebut hanya terjadi di kalangan remaja, bukan anak-anak SD yang masih ingusan dan pipis saja masih belum lurus.

Mungkin motivasi mereka yang memakai panggilan papa-mama atau sejenisnya sebenarnya adalah untuk lebih mengakrabkan hubungan dengan seorang yang spesial di hatinya. Lebih dalam, berharap panggilan tersebut bisa menambah kemesraan antara dirinya dengan sang kekasih. Mereka menganggap hal tersebut bukanlah hal yang aneh karena hanya sekedar panggilan sayang dan apa salahnya memberi panggilan istimewa untuk seseorang yang memang spesial.


Menurutku panggilan ayah-bunda, abi-umi, papi-mami, papa-mama dan sebutan lainnya, adalah sebuah panggilan sakral yang hanya boleh dipakai oleh orang-orang yang sudah terikat pernikahan. Jika dulu panggilan papa-mama, papi-mami atau sejenisnya merujuk pada suami istri maka sekarang bisa merujuk pada panggilan pacar tanpa harus terikat dalam perkawinan. Saya sedikit kuatir dan trenyuh, apalagi bagi mereka yang statusnya masih SD, SMP atau masih sekolah, bahwa secara tidak sadar juga akan berpikiran bahwa mereka adalah pasangan dan tidak ada salahnya melakukan apa yang biasa papa mama lakukan, tidak sekedar hal hal yang biasa dilakukan oleh mereka yang masih pacaran, karena panggilan papa mama, sudah masuk ke level yang lebih intim. Berkembang biak, misale.

Pacaran merupakan proses pengenalan pribadi masing-masing. Hubungan yang terbentuk atas dasar saling mencintai dan keinginan untuk saling memiliki. Pacaran memiliki batas yang menghalangi orang-orang untuk bertindak layaknya pasangan yang telah menikah. Walaupun telah berikrar dan merasa saling memiliki, tetap saja hal itu belum berlaku seutuhnya. Karena kepemilikan atas pasangan terjadi ketika mereka berada dalam ikatan yang sah yaitu pernikahan.

Panggilan papa-mama, papi-mami, abi-umi, ayah-bunda dan sejenisnya , pantas jika seseorang benar-benar berhak dipanggil demikian. Padahal banyak panggilan mesra kepada pacar seperti “Sayang, Abang, Honey, Tukijem, Paiman”, atau apalah selain “Papa-Mama dkk”. Karena istilah-istilah tersebut merupakan hal universal yang memang ditujukan untuk menyebut orang yang spesial. Tak terbatas. Siapapun boleh memakainya. Berbeda dengan label “Papa-Mama, Ayah-Bunda”. Terdapat makna tersirat dalam istilah ini. Sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan kepada Tuhan dan keluarga menyangkut posisi mereka sebagai Ayah dan Ibu.

Hal yang paling lucu adalah jika sudah biasa manggil papa-mama baik secara pribadi atau di depan umum, lha kog ndilalah putus di tengah jalan, kira-kira perasaannya gimana ya? Adakah rasa malu? Hahahaha mungkin tidak..


Kembali lagi kepada anak SD tadi, mereka sebenarnya adalah korban. Korban dari pengaruh buruk media, dan lengahnya pengawasan orang tua. Panggilan ayah-bunda saya analogikan sebagai batang korek api, meskipun kecil, namun bisa menyalakan bom yang kemudian meledak (padahal bom sekarang berbentuk digital). Jika dibiarkan, fenomena seperti pelecehan seksual, kehamilan di luar nikah, dan pernikahan dini akan semakin bertambah angkanya. Dan pada akhirnya dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang “ter” dalam hal-hal tersebut.

Hikmahnya adalah, dalam angkot pagi tadi, saya menjadi percaya bahwa zaman memang sudah edan. Melihat kedua bocah tersebut ber-ayah-bunda-an saya hanya bisa mengelus dada. Dada sendiri tentunya, bukan milik mbak gemes yang duduk di samping saya tadi. Dan juga saya merasa dipecundangi oleh anak SD yang sudah pacaran tapi saya sendiri masih jadi JOMBLO.. hhhaaaa

SEKIAN!!!


0 Response to "Panggilan Papa-Mama saat Pacaran, Wajar gak Sih?"

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel