Senangnya Lebaran dan Senepnya Kaum Piyambakan






Tak terasa lebaran tinggal hitungan hari, semua heboh menyambut datangnya hari raya. Berbagai ritus dikerjakan seolah-olah tanpa melakukannya lebaran tak akan bermakna dan hanya menjadi remah-remah rengginang yang ambyar dan tidak berkesan. Namun dari semua ritual-ritual yang bermacam-macam itu tersebutlah satu hal yang hampir pasti tidak akan dilewatkan dengan sengaja kecuali oleh manusia dalam keadaan kantong bolong serasa habis digarong. Apalagi kalau bukan mudik,.. iya mudik, apa njenengan belum pernah mudik? Ndak punya kampung halaman? Lha njenengan lahir di halaman berapa to sebenarnya? Plakkk..heheeee.. Kata mudik berasal dari sandi kata Bahasa Jawa ngoko yaitu mulih dilik yang berarti pulang sebentar. Saya pun melakoni ritual mudik lhooh, yap bener saya mudik ke Trenggalek, lebih tepatnya Desa Bodag, Kecamatan Panggul.

Ya sudah daripada saya dianggap tidak adil karena melupakan kaum-kaum yang tidak pernah merasakan mudik, maka saya akan sedikit berbaik hati mengganti kosakata mudik dengan kumpul keluarga, karena hakikat tertinggi dari ritual mudik juga adalah berkumpul dengan sanak saudara yang biasanya lama tidak bersua dan lebaran adalah momen paling tepat untuk itu atau istilah kerennya wektu kanggo nglumpukke balung pisah, bahwa tidak hanya umat muslim yang ikut macet-macetan sampai blokekan karena kendaraan parkir di jalan tol sepanjang siang. Maka mudik lantas menjadi sebuah tradisi budaya yang dirayakan bersama dengan kegembiraan yang sejati, jadi toleransi bagaimana lagi yang hendak kita dustakan dari sebuah perjalanan bernama mudik.

Mudik dilakoni semua kalangan dari mbak-mbak kinclong, kinyis-kinyis, semok, wangi yang naik pesawat kelas bisnis sampai dengan simbah-simbah berjarit lusuh sandalan jepit , nyangking kardus dan akhirnya ndeprok di lantai terminal karena bus kelas ekonomi yang ditunggu tunggu bannya bledos dan sekarang masih diganti ban serepnya di bengkel. Ah saya malah jadi hilang fokus mau nulis apa to sakjane, fiuh .


Terkait lebaran yang selalu identik dengan acara kumpul dengan keluarga besar menimbulkan reaksi bermacam-macam di timeline saya. Kebanyakan menyambutnya dengan riang dan sukacita, ada yang upload foto kue-kue yang dibuat sendiri, ada yang bahagia dengan baju barunya, ada yang pasang status bersih-bersih rumah, ada yang bingung memilih antara opor ayam atau opor unta, ada yang sudah lega karena kendaraan sudah selesai diservis di bengkel langganan, namun banyak yang tiba-tiba galau, mules, insomnia dan mendadak pingin nyungsep dari acara silatuurahim yang seperti berubah bentuk menjadi acara pembantaian massal, siapakah mereka yang sungguh teraniaya itu, ah siapa lagi kalau bukan kaum paling marjinal dan nestapa di belahan bumi nusantara, ya merekalah kaum jomblo yang terpinggirkan dan hak-haknya dirampas sampai habis tak bersisa oleh kaum non jomblo. Melas tenan uripmu mbloo...!!!!


Bagaimana tidak, di momen bahagia yang seharusnya mereka nikmati dengan hati gembira, para jomblo justru menjadi tegang tak kepalang mempersiapkan jurus-jurus berkelit andalan, counter attack untuk menangkis jab, hook maupun uppercut yang bertubi tubi yang intinya hanya satu, yaitu pertanyaan KAPAN RABI ALIAS KAPAN NIKAH. Sungguh kejam memang disaat yang lain makan opor burung unta dengan nikmatnya , para jomblo harus berjibaku dengan siasat dan strategi yang sudah mereka persiapkan dengan matang namun kerap kali kandas dengan sangat mengenaskan.
    “Apalagi yang mau dicari?”
    “Kapan mau dikenalkan calonnya?”
    “Mungkin kamu terlalu pilih-pilih”
    “Jangan terlalu sibuk, nanti kamu lupa kawin”
    “Ingat umur”
    “Itu si anu sekarang udah punya anak lho, kamu kapan?? ” ..dyaarrr


Daftar pertanyaan itu adalah 0,1% saja, kalau mau ditulis semua panjangnya bisa melebihi tol cipali, namun intinya adalah hampir semua menilai kalau kaum jomblo lah yang bersalah, kenapa mereka bisa tetap single dan tak kunjung double alias punya pasangan, seolah tak ada jenis pertanyaan lain yang lebih berbobot dan bisa dijawab dengan jujur tanpa basa basi dan topeng kepalsuan, pernahkah para panelis nan terhormat itu berpikir bahwa sang jomblo aslinya juga menginginkan perkawinan, perkara kenapa belum juga ada ijab Kabul itu ya karena jodoh mereka belum ketemu, udah sesimpel itu saja kebenarannya.

Terus apa yang sebaiknya dilakukan oleh para single fighter alias JOMBLO jika terjebak dalam situasi yang sangat tidak menguntungkan ini, sebagai manusia Indonesia yang taat hukum tentu para jomblo tidak diperbolehkan membalas sayatan pertanyaan yang digoreskan diatas hati itu dengan tikaman trisula tepat di jantung sang pembully, karena penjara siap menanti. Hal paling bijak yang bisa dilakukan ketika semua jawaban tak ada yang memuaskan adalah berusaha tenang, tetap tersenyum, selain senyum adalah ibadah dia juga mantra paling ampuh dalam menangkal semua mantra-mantra jahat sindiran, nyinyir dan kekepoan. Tapi harus diingat tersenyumlah dengan tulus sehingga aura kecantikan dan ketampanan kalian keluar maksimal, jadi untungnya berlipat ganda, sudah dapat pahala plus terlihat lebih muda mempesona. heheheee...


Kalo toh dengan senyuman saja tetap membuat sang penanya tak berhenti menginterogasi maka bisa dipilih alternative jawaban yang agak religious sehingga penanya menjadi shock dan terdiam sejenak, saat itulah waktu yang tepat untuk segera kabur sebelum penanya mendapatkan kesadarannya kembali. Usahakan untuk tidak memberikan jawaban yang ndakik-ndakik karena potensial menjadi blunder dan membuat hatimu semakin tercabik-cabik.
Namun begitu, janganlah pula bersikap terlalu defensive, karena sebenarnya pertanyaan mengganggu yang terlontar itu mungkin adalah sebuah bentuk perhatian kalau toh tidak bisa kita sebut sebagai kurangnya bahan obrolan. Bersabar dan tetaplah percaya bahwa di suatu sudut sana ada seseorang yang sebenarnya tercipta untuk melengkapimu, tinggal bagaimana daya, upaya dan doa yang kita lakukan untuk meraihnya, benar kalau lahir, jodoh dan mati di tangan Tuhan, tapi kalau ndak ada usaha yang dilakukan ya Tuhan ndak mau juga ngasih jodoh secara mak bedundug di depanmu begitu saja, medeni nanti jadinya kalau gitu.


Jadi buat para jomblo dimanapun kalian berada, songsonglah lebaran dengan sukacita, janganlah bermuram durja di hari raya hanya gara-gara pertanyaan KAPAN RABI ALIAS KAPAN NIKAH. Pertanyaan klise itu tidak akan membuat kalian hancur malah akan menjadi pelecut semangat dan ajang pembuktikan diri bahwa kaum single pun bisa memberikan kemanfaatan bagi orang banyak. Mau bukti, banyak teman saya yang masih jomblo justru memiliki kiprah luar biasa dalam membantu sesama, tak usah saya sebut siapa-siapa nanti dikira riya' dan membela diri. Satu yang pasti jangan pernah terlintas dalam pikiran untuk menjawab pertanyaan kapan nikah dengan kapan mati, buktikanlah kalian jomblo generasi kekinian yang selalu menjunjung tinggi norma dan nilai-nilai kesopanan, beusahalah untuk senantiasa membalas penindasan keji dengan kebaikan hati.



Akhirnya selamat mudik dan berlebaran untuk semua yang merayakan baik yang jomblo, non jomblo maupun yang sedang menunggu jomblo agar tidak lagi menjadi jomblo. Jagalah kesehatan di hari raya dengan tidak kalap dalam menyantap.


SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI , MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN




0 Response to "Senangnya Lebaran dan Senepnya Kaum Piyambakan"

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel