Ramadhan dan Tradisi Yang Selalu Mengulang




Ramadhan seperti dimaknai sebagai sebuah ritual yang rutin mesti dilakukan karena merupakan sebuah kewajiban, maka tak heran jika dari tahun ke tahun prosesi yang menyertai ibadah nan suci ini selalu berulang.
Dimulai saat sekitar seminggu sebelum ramadhan atau menjelang lebaran, sejenak menengok ke pusat-pusat perbelanjaan banyak sekali manusia yang kalap memenuhi troli mereka dengan setumpuk bahan kebutuhan pokok yang mungkin bisa memenuhi keperluan beberapa rumah tangga sekaligus, untuk stock selama ramadhan begitulah alasan yang sering dikemukakan. Mereka mungkin berpikir bahwa ketika ramadhan semua bahan makanan mesti tersedia lebih agar kebutuhan perut dapat terjamin selama sebulan. Ahh mungkin saja banyak yang lupa dengan sebuah lantunan lagu dari bimbo yang kira-kira berbunyi “ada anak bertanya pada bapaknya, buat apa berlapar-lapar puasa?” dan jawabannya “lapar mengajarmu rendah hati selalu”. Ya jika disaat puasa pun kita tidak pernah merasakan lapar yang sesungguhnya karena stock makanan yang selalu terjamin bahkan cenderung berkelebihan, maka sikap rendah hati dan empati seperti apa yang akan terbangun.

Perjalanan berlanjut ke masjid, seperti biasa setiap ramadhan tiba masjid pun selalu bertambah semarak, baik di waktu sholat subuh yang biasanya hanya ada imam, muazin dan beberapa gelintir bapak-bapak yang kalau boleh saya generalisir biasanya sudah sepuh, apalagi pas sholat maghrib dan isya yang dilanjutkan dengan tarawih. Bisa dipastikan semua shaf terisi sempurna, bahkan sampek tempat parkir. Tapi tunggu dulu lagi-lagi seperti sebuah déjà vu, penuhnya masjid hanya bertahan tak sampai sepuluh hari pertama paripurna. Pelan tapi pasti jamaah akan menyusut dan mengalami kemajuan yang signifikan.

Mari kita teruskan langkah kaki menuju mall dan toko-toko pakaian. Ketika ramadhan sudah hampir mencapai separuh maka bangunan inilah yang menjadi sasaran banyak orang. Dulu mungkin hanya para emak-emak dan perempuan yang menyerbu karena ingin bergaya dengan baju baru di hadapan para sanak saudara tapi sekarang hampir bisa saya menyebut fifty-fifty karena para bapak dan pria pun ikut larut dengan perburuan sepotong dua potong pakaian baru yang jika mereka sempat menengok lemari pakaian di rumah pun terkadang masih bisa menemukan baju berlabel yang belum dicuci. Dan sebagai konsekuensi membludagnya pembeli dengan potensi belanja yang luar biasa hebohnya, maka pihak penjual pun tak berkeberatan memberikan diskon gila-gilaan dengan bonus bla bla bla, walaupun sebenarnya itu sebuah trik lama untuk menggoda isi dompet keluar secara tak masuk akal. Namun akhirnya semua merasa dibenarkan dan diuntungkan walau semua sadar kalau ada yang dikelabui secara tidak ketara.

Sekarang mari kita berpindah ke tempat adik-adik yang bagi kebanyakan orang dikatakan hidupnya tidak beruntung karena dilahirkan ke dunia tanpa tahu siapa bapak dan ibunya. Ya, lagi-lagi seperti yang sudah-sudah, di bulan dimana semua orang berlomba-lomba berbuat kebajikan, panti asuhan menjadi sebuah tempat favorit terutama di saat adzan manghrib berkumandang. Banyak sekali orang-orang baik yang menjadikannya tempat berbuka puasa atau kalaulah tak memungkinkan mereka datang kesana, maka merekalah yang mengundang para penghuni panti bertandang ke rumahnya yang mungkin saja luas halaman depannya hampir sama dengan luas seluruh bangunan panti. Sungguh itu perbuatan mulia dan sangat bagus tentunya, namun haruskah diagendakan setahun hanya sekali. sesungguhnya siapa yang sebenarnya beruntung disini, adik-adik penghuni panti yang ditraktir makanan lezat bergizi plus hadiah dan uang saku yang hanya bisa mereka nikmati setahun sekali, atau para penderma yang mengeluarkan sedikit rezekinya namun akhirnya mendapat doa tulus dari para manusia belia nan polos yang dianggap tidak beruntung tadi.


Dan akhirnya safari pun tiba di ruas jalan antar kota antar propinsi, terminal bus, stasiun kereta api, pelabuhan laut dan Bandar udara.
Di hari-hari menjelang ditutupnya bulan ramadhan, maka seperti tradisi tahunan yang selalu berulang tempat-tempat tulah yang menjadi primadona bagi para perantau dan orang-orang yang mengaku masih memiliki kampung halaman, tak terkecuali saya tentunya. Sebagai anak perantauan saya juga melakoni tradisi mudik, yap bener..aku pulang ke Trenggalek, Jawa Timur. Seperti sebuah akhir penantian yang mengharuskan kita berada di tempat-tempat ini, ramai dan padatnya arus migrasi manusia tak mampu menyurutkan langkah untuk terus berjuang demi mendapat sebuah kebahagiaan bertemu dengan orang tua dan kerabat lainnya dalam sebuah tradisi besar bernama mudik.



Jika saja ramadhan itu sepanjang tahun pasti akan lebih banyak kebaikan-kebaikan yang tersebar, orang-orang juga cenderung lebih sabar dan hati-hati dalam bersikap, tutur kata dan perilaku juga lebih terjaga, setiap perbuatan yang hendak dilakukan juga akan mempertimbangkan baik dan buruk akibatnya, namun ramadhan hanya sebulan dalam setahun, kalau memang semua yang kita jaga dengan baik di bulan ini bisa diteruskan untuk selamanya, tentulah mereka adalah orang-orang yang beruntung sehingga selalu dijaga dalam perlindunganNya.


Sebagai penutup saya mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa ramadhan bagi kalian yang sedang menjalankannya.




Comments
0 Comments

0 Response to "Ramadhan dan Tradisi Yang Selalu Mengulang"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel