Bersyukur Jangan Hanya 'Sawang Sinawang'



Rumput tetangga lebih hijau. Hidup orang lain selalu lebih menarik (lebih baik) dari yang kita miliki. Menurut saya, tidak ada rumput yang lebih hijau. Warnanya sama hijau dan tidak ada yang lebih hijau. Kata “Lebih” merupakan ungkapan rasa yang timbul akibat kekaguman (kagetan) dalam memandang satu hal. Dan inilah yang kadang membuat kita lupa untuk bersyukur, kita lebih suka membandingkan hidup orang lain dengan diri kita (dalam konteks materi). Bisa jadi orang itu hidupnya kaya dengan banyak harta tapi belum tentu hidupnya bahagia seperti pandangan atau dugaan kita.

Manusia memang materialistis, tak pandai bersyukur. Punya motor yang masih bagus, menginginkan motor yang lebih bagus lagi. Sudah punya istri yang semlohe masih berkeinginan punya istri lagi yang lebih semlohe. Akhire ya ngelu ndase. Orang jadi ngelu ndase karena punya rasa iri, dengki, cemburu lihat harta atau kemapanan orang lain. Saya pun kadang suka cemburu kalau ada ibu-ibu muda gendong anaknya yang masih kecil dan imut, duuuuhhh rasane pengen dadi anake, trtus ndusel-ndusel ning pangkuane :D :D

Hidup adalah karunia. Jangankan dilahirkan jadi idiot, dilahirkan sebagai anjing pun itu sudah bagus. Semua punya peran dalam kehidupan. So, ndak usah iri dengan apa yang orang lain punya.

Aku merasa beruntung dilahirkan sebagai muslim dan dari keluarga muslim. Bagaimana jadinya jika aku dilahirkan sebagai Nasrani, Cina, kaum minoritas yang sering dituding-tuding, dibatasi dan bahkan diteriaki kafir oleh para pengapling surga itu.

Padahal Tuhan sengaja ngasih sudut pandang yang berbeda pada tiap manusia. Pada hakikatnya orang yang menganut agama yang bermacam-macam itu, bukan karena kehendaknya sendiri, tapi ada campur tangan Tuhan. Makanya aku heran kalau ada yang menganggap orang lain itu najis, kotor, rendah, mbladus gak tau adus koyok wedus.

Manusia tak bisa menolak jika terlahir sebagai kulit hitam, kulit kuning, bule, bermata sipit, Yahudi, idiot, SLB. Takdir itu pasti, bersyukur itu pilihan.

Karena Tuhan yang menganugerahkan kehidupan pada manusia, maka sebenarnya nggak etis kalau beribadah mengharapkan imbalan. Ibadah itu dalam rangka bersyukur, jika dapat imbalan, kuanggap itu bonus. Tuhan jelas-jelas berjasa pada manusia, kok tidak diakui. Malah beberapa tahun sekarang ini lagi tren sedekah 'ajaib', noh lihat saja dimedsos banyak banget yang ngeshare. Sedekah yang ngincer kembalian berlipat ganda. Janji Tuhan dijanjikan oleh ustadzzzz. Sedekah Avanza berharap dapat Alphardddd. sedekah alphard dapat pesawat :D :D

Banyak orang beribadah yang masih salah niat. Naik haji biar dagangannya lebih laris. Shalat Duha biar diterima jadi PNS. Ibadah itu dalam rangka bersyukur..titik!. Menangislah pada Tuhan tapi bukan berarti jadi cengeng. Nabi dalam shalatnya menangis tapi sebenarnya itu adalah menangisi. Beda antara menangis dan menangisi. Kalau menangis itu kecenderungan untuk dirinya tapi kalau menangisi itu untuk selain dirinya : orang tua, anak, istri, saudara, sahabat dan seterusnya.

Ada seorang pedagang miskin yang daganganya nggak laku, dia sabar dan ikhlas : "kalau memang saya pantasnya miskin , dagangan saya nggak laku..saya ikhlas..manut...yang penting Tuhan ridha sama saya." Malah keikhlasan seperti ini yang langsung dijawab oleh Tuhan dengan rejeki berlimpah yang tak disangka-sangka datangnya.

Iman seseorang memang tidak bisa distandarisasi. Tiap orang mempunyaibkapasitas iman yang berbeda . Makanya kalau jadi imam harus paham makmumnya. Makmumnya koboi tapi bacaan imamnya panjang-panjang disamakan dengan anak pesantren. Akhire makmumnya nggerundel, gak ihklas , “kulhu ae liiik, kesuwen!”


Ah sudahlah, sebelum tulisan saya ini semakin ngelantur kemana-mana, maka saya akhiri sekian dan terima kasih telah membaca di BLOG saya ini. *cium

Comments
0 Comments

0 Response to "Bersyukur Jangan Hanya 'Sawang Sinawang'"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel